Sedari menjadi ibu, aku sangat suka mengulik soal homeschooling. Prinsip HS sangat ideal untuk dilakukan setiap keluarga. Tapi aku gak berani murni HS karena belum bisa konsisten. Pasang target belajar rutin bareng anak-anak aja sering loss, apalagi kalau nggak sekolah. So far anak-anak juga enjoy di sekolahnya. Tapi walaupun tetap bersekolah formal, aku tetap menyimak berbagai forum tentang parenting yang umumnya tokohnya adalah pelaku HS. Salah satunya Mbak Ellen Kristi.
Buku beliau yang meramu prinsip pembelajaran ala Charlotte Mason (CM) berjudul 'Cinta yang Berpikir' telah banyak berjasa membentukku jadi ibu yang lebih tangguh. Tapi ketangguhan ini seperti agak melemah ketika berhadapan dengan Persiapan ujian akhir kelas 3 SMP anak lanang. Di sekolah diadakan tryout 6x berturut-turut untuk memastikan kesiapan peserta didik. Yang buat aku syok, nilainya jeblok pake banget. Langsung deh gentle parenting berubah jadi tiger parenting yang ternyata gak sesuai dengan kepribadianku. Sempat bertanya-tanya, kedepannya sebaiknya gimana, karena nggak mungkin aku tiger mode terus. Capek.
Pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata Mbak Ellen sedang membuka lokakarya mengenai perumusan aturan prinsipil bagi anak. Selama ini satu2nya hal prinsip yang aku yakini adalah soal konsitensi beribadah, khusunya solat lima waktu. Sedangkan hal-hal yang bersifat dunia belum aku identifikasi lagi. Semoga setelah ini bisa lebih baik dalam mendidik anak. Aamiin.
Sampailah waktu lokakarya tiba. Aku lupa saat itu lagi bukber, alhasil zoom sambil bukber. Ehehe.. Inti dari lokakarya ini, nanti peserta diajarkan mencari tahu sendiri prinsip dari peraturan yang akan ditegakkan. Sebelum lokakarya, peserta diminta menuliskan problem dan peraturan yang berjalan untuk mengatasi problem tersebut. Yang paling banyak adalah concern tentang screen time. Tema ini dibahas paling pertama dan cukup berkaitan dengan tema lainnya, termasuk concernku soal sesi akademis anak.
Salut sama kesabaran Mb Ellen membimbing setiap peserta merumuskan prinsip dan aturannya sendiri. Kita diajarkan mencari informasi yang efektif via AI. Jadi prinsip yang kita tetapkan adalah memang sesuai dengan hasil riset ilmiah. Terkait pendampingan akademis, ada satu quotes Mb Ellen yang akan aku pegang teguh dan jadi prinsip utama membimbing akademis anak.
"Asalkan tidak ada screen time berlebih dan dia securely attached ke orangtua, pasti anak secara alamiah ingin bertumbuh dan berelasi dengan pengetahuan. it will bloom at Nature's time. have faith."
Mengimani ini saja, dan nggak ada yg perlu dikuatirkan lagi. May Allah straightened my faith. Aamiin.
Terkait nilai Faris. Aku sekarang sudah berdamai bila memang nilainya kurang baik. Karena selama kebiasaan baik sudah dilakukan, apabila hasilnya masih kurang baik, ya berarti mungkin kekuatannya memang nggak disitu, dan pasti akan terbuka jalan yang seharusnya. Yang penting fokus ke proses, bukan ke hasil semata.
Hasil Aturan Prinsipil Belajar Faris:
Prinsip Non-Negotiable untuk Jam Belajar Anak Laki-Laki 14 tahun: Sesi akademis adalah sesi terapi karakter ortu dan anak sehingga fokusnya pada pembentukan kebiasaan baik, bukan hasil.
Aturan
turunan:
- Waktu
belajar antara jam 18.00-20.00 (agar terbentuk kebiasaan rutin belajar)
- No
gadget antara jam 18.00-20.00 (agar terhindar distraksi di jam belajar)
- Evaluasi belajar rutin (1-3 kali seminggu) untuk memastikan anak memang berproses belajar. (perlu konsistensi dari ortu untuk bersabar mendampingi prosesnya)
Selanjutnya akan ada kelas Mendewasakan Emosi dan Peta Jalan Pendewasaan Anak. In sya Allah bakal ikutan dan garis besarnya akan aku share lagi di blog. Selamat bertumbuh semua. Bismillah.

































